Menjelang saat berbuka, kita melihat fenomena baru yang tidak akan kita dapati di luar bulan Ramadhan, berupa munculnya pasar kaget yang menyediakan aneka kue/makanan juga minuman dalam berbagai bentuk sajiannya. Orang-orang bisa berjubel dan antre…jalanan pun seketika macet untuk 1-2 jam itu. Luar biasa!
Setelah puas tunjuk sana sini, beli ini itu dan bayar segini segitu…sambil membawa tentengan ke tempat parkir, mata masih bisa tengok sana tengok sini, seolah masih ada yang dicari. Tidak jarang kita pun masih berhenti dan lagi…tunjuk sana sini!
Setiba di rumah, meja makan serasa sedang ada pesta. Perlu kiat dan trik khusus untuk bagaimana bisa mengatur dan menyajikan suguhan agar muat di meja makan yang ada. Kita pun sangat bersemangat menanti detik-detik bedug Maghrib tiba, dug dug dug… Alhamdulillah, seteguk minuman hangat atau es segar dan sepotong kurma mengawali saat berbuka.
Sesudah itu, sejenak kita bingung mau makan yang mana duluan? Ada es cendol, ada kolak pisang, ada bubur sumsum dengan cenil…., itu belum selesai. Sesudah di sela dengan shalat Maghrib kita kembali bingung saat harus memilih makanan buka utama… Subhanallah, sadarkah kita bahwa kita telah “berlebih-lebihan” dan memboroskan sesuatu yang tidak kita perlukan! Yang kita perlukan dan bisa kita makan ternyata hanya sebatas sepiring…selebihnya hanyalah keinginan nafsu serakah belaka.
Sekeping fragmen ini sebenarnya sudah cukup menggugah kesadaran kita bahwa dalam kehidupan keseharian kita -bukan hanya saat berbuka, berapa kali kita membeli sesuatu yang sebenarnya tidak kita perlukan, berapa kali kita membayar makanan yang ternyata tidak habis kita makan dan kita buang. Padahal di sisi lain ada kehidupan saudara-saudara yang -jangankan untuk memilih, mendapat sekedar sesuap makan membutuhkan perjuangan. Jika kita abai dengan itu, makhluk apa kita ini sebenarnya?
Filed under: Uncategorized





