Saya beberapa kali harus termenung saat menuliskan judul tulisan ini, saya sangat tidak ingin terjebak dalam pusaran emosional yang saat ini sedang hangat dan mengemuka di berbagai media. Bagaimana pun pilihan konfrontasi hanya akan membuat kedua negara serumpun ini sama-sama menanggung resiko yang besar dan mungkin jika sampe ini terjadi -saya berdoa mudah-mudahan para pemimpin dan segenap elemen masyarakat kedua bangsa ini bisa menahan diri, perbaikan dan rekonsiliasi setelah itu akan menjadi hal yang sulit dilakukan dan memakan biaya, waktu dan tenaga yang tidak sedikit.
Saya memandang Indonesia dan Malaysia laksana sebuah keluarga -dalam sejarahnya bahkan Indonesia menyusupkan banyak WNI untuk mendukung etnis Melayu saat awal-awal kemerdekaan Malaysia. Artinya, hubungan “kekerabatan” kita sangat dekat! Sebagai keluarga -kerabat dekat, kita maklum jika “perselisihan” antar anggota keluarga intensitasnya bisa lebih sering -karena saban hari bertemu saban hari bersinggungan, biasa itu! Namun sayangnya jika tidak dikelola dengan baik, benturan yang mungkin terjadi bisa sangat kerasnya bahkan lebih keras dibandingkan jika benturan itu terjadi dengan orang lain -yang bukan anggota keluarga. Proses penyembuhan setelah terjadi “benturan” pun bisa memakan waktu lebih lama. Saya mencoba melihat “ketegangan” kedua bangsa dari sisi ini.
Saya mulai kesulitan ketika berusaha memahami mengapa sentimen negatif itu bisa menguat dengan begitu hebatnya akhir-akhir ini. Dalam perenungan saya berusaha untuk mengabaikan tindakan provokasi yang dilakukan oleh sementara pihak yang memperkeruh suasana panas yang ada. Saya malah curiga, jangan-jangan ada pihak-pihak ketiga yang mengambil keuntungan dan saat ini mungkin malah berharap konfrontasi akan benar-benar wujud dan menghancurkan segalanya!
Lepasnya pulau Sipadan dan Ligitan, kemudian ketegangan di blok Ambalat, kasus TKW dan TKI yang terjadi berturut-turut juga ributnya kasus Manohara, dan terakhir tari pendet dan plesetan lagu Indonesia Raya, memang menjadi mesiu untuk jika tidak berhati-hati akan hanya menunggu waktu untuk diledakkan atas nama harga diri dan kehormatan. Hal ini sangat berbahaya! Saya menilai pemerintah memang nampak tidak cukup mempunyai wibawa saat meminta penjelasan atas kasus-kasus yang terjadi, dan Malaysia terkesan kurang peduli dan care atas hal itu.
Saya berpikir, protes dengan penyampaian nota diplomatik mungkin saat ini tidak lagi efektif. Membekukan hubungan diplomatik bisa jadi sebuah pilihan untuk menunjukkan kesungguhan sikap, sambil tentu tetap dilakukan loby-loby diplomatik untuk menjamin kasus-kasus pelecehan tidak terulang, terulang dan terulang lagi. Menjewer, bahkan menempeleng kadang perlu dilakukan dan masih lebih baik sebelum semua menjadi tambah runyam dan harus baku bunuh, bagaimana menurut anda?
Filed under: Opini Ditandai: | jiran, konfrontasi malaysia, malaysia






