Ajal, Janji Bersua yang Sering Terlupa

Tulisan saya kali ini tidak bermaksud untuk “nakutin”, karena memang seharusnya kita tidak takut menghadapi kematian. Sebagai sesuatu yang PASTI akan datang menghampiri, saya jarang -hampir tidak pernah, bertemu dengan kawan yang dengan penuh percaya diri berkata “saya siap jika saat ini harus dipanggil”… Umumnya, selalu merasa masih perlu banyak waktu untuk memperbaiki diri…padahal jika “panggilan” itu datang tak ada kata untuk menunda atau memajukan!

Berikut ini ada sebuah “dongeng” menarik tentang ajal, saya katakan dongeng karena sumbernya pun -diduga adalah cerita israiliyat, karangan tanpa dasar, namun ijinkan saya menceritakan dongeng ini kembali karena saya melihat ada hikmah yang bisa kita ambil dari cerita ini. Sekali lagi, background cerita anda abaikan saja ambil hikmahnya karena ini hanyalah sebuah dongeng belaka. Wallahu’alam

Cerita terjadi pada masa Nabi Sulaiman as, semua kita mafhum betapa Nabi Sulaiman as diberi berbagai anugerah yang tidak biasa berupa kekayaan, kekuasaan -bahkan atas dunia jin dan binatang, hingga kemampuan beliau untuk mengendalikan angin dan awan. Kesemuanya itu tentu atas ijin dan perkenan Allah.

Pada suatu hari, beliau mendapat kunjungan seorang tamu istimewa yakni malaikat Izrail -malaikat pencabut nyawa, sudah tentu hadir dalam wujud sebagai “manusia”. Setelah mengucapkan salam dan saling menanyakan kabar berita masing-masing maka layaknya sahabat, keduanya asyik dalam perbincangan. Di sela-sela perbincangan, malaikat Izrail as beberapa kali melirik kepada salah seorang punggawa Nabi Sulaiman as. Bahkan terkadang menatapnya dengan agak lama..kemudian melanjutkan perbincangan. Demikian berlalu hingga malaikat Izrail as pun pamit sambil sekali lagi melirik kepada punggawa itu.

Setelah berlalu, maka punggawa -kita sebut saja si Fulan, memberanikan diri untuk bertanya kepada Nabi Sulaiman as perihal tamunya. Dia merasa tidak enak karena bolak-balik dilirik dan diperhatikan oleh tamu tersebut, hingga ia juga bertanya-tanya apakah mungkin dia kenal? Tapi dia yakin, tamu itu bukan dari kerabat atau seseorang yang dia kenal. Jadi siapakah tamu itu? Nabi Sulaiman pun menjelaskan bahwa tamu tadi adalah malaikat Izrail as -malaikat pencabut nyawa.

Mendengar keterangan ini, bukan alang kepalang terkejutnya si Fulan. Badannya serasa lemas dan wajahnya pun pucat seperti tak lagi bertenaga! Bagaimana tidak, dia barusan di lirik-lirik oleh seseorang yang ternyata adalah Malaikatul Maut! Setelah berusaha menenangkan diri sejenak, sambil menghela nafas si Fulan pun bermohon kepada Nabi Sulaiman as untuk bisa dihantarkan ke negeri Cina saat ini juga. Singkat cerita, dengan bantuan angin Nabi Sulaiman as pun menghantarkan si Fulan ke negeri Cina.

Beberapa waktu berlalu sejak kejadian ini, hingga suatu hari malaikat Izrail berkenan untuk datang menjenguk Nabi Sulaiman as. Setelah memberi salam dan saling menanyakan kabar masing-masing, keduanya pun asyik dalam perbincangan. Di tengah perbincangan tiba-tiba Nabi Sulaiman as teringat dengan si Fulan, maka ditanyakan hal tersebut kepada malaikat Izrail as. Mengapa tempo hari melihat berulang-ulang kepada si Fulan hingga si Fulan menjadi tidak nyaman?
Malaikat Izrail as pun berkata,” aku heran melihat si Fulan ada di sisimu karena aku mendapatkan perintah dari Allah untuk mencabut nyawanya di negeri Cina… Namun sesaat setelah aku tiba di negeri Cina, subhanallah ternyata si Fulan sudah ada dihadapanku!”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.